• Kembali ke Website Pertuni
  • Testimony
  • Berita Tunanetra
  • Blog
  • World Blind Union Publications


  • Buku Tamu



    Selamat datang.

    Anda adalah pengunjung ke
    View My Stats Silakan isi
  • Buku Tamu
  • Terima kasih.
  • Lihat Buku Tamu




  • Blogger Tunanetra

  • Didi Tarsidi: Counseling and Blindness – www.d-tarsidi.blogspot.com
  • Rachel: Remang-remang – www.remang-remang.blogspot.com
  • Suratim: Inspirational, Motivational, Business, Financial & Adaptive Service for The Blind – www.blindentrepreneur.wordpress.com
  • Rina Prasarani Alamsyah: www.rina-alamsyah.blogspot.com
  • Asib Edi Sukarsa: Reglet – www.reglet.wordpress.com
  • Yuni Hortensia: Bersama Aku dan Tulisanku – www.yunihortensia.blogspot.com
  • Suryandaru: www.suryandar.blogspot.com
  • Nensi: Karya Sastraku yang Sederhana – www.diksi28.blogspot.com
  • Ai Cahyati: My Daily Notes – www.a-cahyati.blogspot.com
  • Fatmawati: fathie-Luarbiasa – www.fathie-luarbiasa.blogspot.com
  • Hendra: Pianoman75 – www.pianoman75.multiply.com
  • Irwan Dwi Kustanto: Angin pun Berbisik – www.anginpunberbisik.blogspot.com
  • All about Balqiz – www.allaboutbalqiz.blogspot.com
  • Zulkifli: www.kambusong.multiply.com
  • DPD Pertuni Jawa Tengah – www.pertunijateng.blogspot.com
  • Rio_unesa: Informasi bagi tunanetra - http://rio-t4.blogspot.com


  • Daftar Isi

  • Miles Hilton Barber, Pilot Tunanetra Sukses Terbangkan Pesawat Microlight
  • Agung Rejeki Yuliastuti, Tunanetra yang Jadi Psikolog
  • Rama, Kiprah Seorang "Blogger" Tunanetra
  • Saharuddin, Tunanetra Pejuang HAM
  • Bambang Basuki, Tunanetra Pendiri Yayasan Mitra Netra
  • Setia Adi Purwanta, Kebutaan adalah Kesempurnaan
  • Angin pun Berbisik: Kumpulan Sajak Cinta
  • Dengan Hati Melihat Dunia
  • Hendra Jatmika Pristiwa: Kami juga Harus Melek Teknologi
  • Wacih Kurnaesih Menulis dengan Rasa
  • DIDI TARSIDI, SEMANGAT JUANG DAN KEARIFAN TUNANETRA




  • Sabtu, 2009 April 18

    Miles Hilton Barber, Pilot Tunanetra Sukses Terbangkan Pesawat Microlight

    Harian Umum PELITA, 25-Okt-2007

    PESAWAT Microlight merupakan pesawat olahraga di kalangan Federasi Aero Sport Indonesia

    (FASI) dan biasa diterbangkan para pilot-pilot dengan sertifikat
    yang diperoleh dengan seleksi sangat ketat. Salah satu persyaratan tersebut adalah sehat

    jasmani dan rohani.
    Namun kenyataannya membuktikan bahwa penyandang cacat tunanetra berhasil menerbangkan

    pesawat Microlight, Minggu (15/4). Hal yang menakjubkan itu, menimbulkan
    banyak kalangan wartawan dan masyarakat umum bertanya-tanya karena rute penerbangan yang

    ditempuh tergolong sangat luar biasa karena terbang beribu-ribu
    kilometer.
    Bahkan Miles Hilton Barber yang pernah mengantongi rekor menerbangi Kanal Inggris dengan

    menerbangkan pesawat Microlight pada ketinggian 20.300 kaki itu,
    akan menambah panjang sejarah dalam dunia olahraga mengelilingi dunia untuk menggalang dana

    guna merestorasi penglihatan para orang-orang penyandang cacat
    tunanetra yang berada di negara berkembang.
    Dengan pengalaman itu Miles Hilton Barber, merupakan orang pertama yang menggunakan sistem

    navigasi di dunia penerbangan, yang menggunakan GPS dengan keluar
    suara (audio) untuk mengetahui arah yang biasanya GPS berupa visual. Sementara kopilot hanya

    berfungsi untuk berjaga-jaga apabila kondisi udara terlalu
    parah agar dapat menentukan pendaratan darurat atau menentukan pemilihan dalam upaya

    penyelamatan terbang sebagai faktor utama.
    Yang lebih menarik lagi pilot yang telah menyandang tunanetra selama 20 tahun ini, tidak

    surut akan keinginan untuk menerbangkan Microlight menyeberangi
    lautan dan benua. Hal itu terbukti bahwa Miles Hilton Barber telah keliling dunia dengan

    menyeberangi gurun, lautan, benua, dan pulau-pulau.
    Bahkan kehidupannyapun seperti orang yang sehat jasmani, bahwa karya-karyanya sangat

    bermanfaat banyak kalangan khususnya penyandang tunanetra, juga memberikan
    motivasi dan inspirasi orang lain untuk mencapai potensi yang mereka miliki.
    Keinginannya keliling dunia untuk mengumpulkan dana yang diperuntukkan para penyandang cacat

    tunanetra di negara berkembang itu Miles Hilton Barber, singgah
    di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur disambut Ketua Harian Pengurus Besar FASI

    Marsekal Muda TNI Eko Edi Santoso, Kabid Kegiatan Umum Marsda TNI
    Eris Herryanto, Wakabid Kegiatan Umum Marsma TNI Daryatmo, Kabid Hubungan Luar Marsma TNI T

    Djohan Basyar, Kabid Humas Drs Effendi Soen, Kapotdirga Microlight
    Wunwun Mauladi, Ketua FASI Provinsi DKI Jakarta dan Anggota Pordirga.

    Selasa, 2009 Januari 13

    Agung Rejeki Yuliastuti, Tunanetra yang Jadi Psikolog

    Radar Semarang, Jumat 9 Januari 2009

    Buta di Usia 25 Tahun, Kerap Jadi Narasumber Seminar Motivasi

    Keterbatasan penglihatan tidak menjadi penghalang bagi Agung Rejeki Yuliastuti, S.Psi untuk membantu sesama. Penyandang tuna netra ini sangat terbuka bagi
    siapa saja yang membutuhkan bantuan konseling psikologi.

    ADITYO DWI RIYANTOTO

    --------------------------------------------------------

    SIANG itu, Agung Rejeki Yuliastuti nampak sibuk mengolah data-data hasil tes psikologi seleksi guru di salah satu SMP swasta di Semarang. Kebetulan, Agung
    -begitu sapaan akrabnya dilibatkan dalam seleksi guru dari sisi psikologis para pelamar.

    "Saya biasanya lebih banyak ngantor di sekretariat Persatuan Tuna Netra (Pertuni) Jawa Tengah. Tapi, sekarang lagi punya kerjaan menyeleksi guru SMP,"
    kata Agung Rejeki Yuliastuti saat ditemui Radar Semarang di rumahnya sekaligus tempat praktik psikologis di bilangan Jalan Badak V/21 RT 11 RW VI Gayamsari,
    Semarang.

    Kendati memiliki keterbatasan penglihatan, Agung tidak lantas menyerah pada nasib. Bungsu dari lima bersaudara pasangan Hadi Sumartono dan Sumartiti ini
    tetap beraktivitas seperti biasanya. Ia pernah menjadi asisten pengajar di Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak (PGTK) Darul Qolam (1998-2000), kemudian menjadi
    konselor psikologi untuk TK dan SD Siswa Terpadu Harapan Bunda (2000 - 2007).

    "Saya start menjadi konselor sejak 2001. Klien saya mulai anak - anak dan orang tuanya, hingga para mahasiswa serta para anggota Pertuni sendiri," tuturnya


    Para kliennya sendiri awalnya tidak mengetahui kalau dirinya mengalami keterbatasan penglihatan. Namun hal itu tidak menghambatnya untuk membantu dalam
    memecahkan permasalahan. "Biasanya jika dalam konseling saya membutuhkan alat bantu, saya banyak dibantu teman," kata lajang kelahiran Semarang, 11 Juli
    1969 ini.

    Saat ini Agung kerap memberikan motivasi kepada para anggota Pertuni dan masyarakat umum untuk tidak gampang menyerah. Persoalan yang dikonsultasikan,
    umumnya soal masalah keluarga, anak, meningkatkan percaya diri, dan problem hidup lainnya. Dia juga sering diundang untuk menjadi narasumber seminar motivasi
    bagi anak - anak hingga mahasiswa.

    "Biasanya kalau untuk anak - anak, saya memberikan motivasi belajar. Kalau untuk mahasiswa ya seputar masalah remaja," ucap penerima penghargaan Kartini
    Award 2008 dari Radio Imelda FM Semarang ini.

    Wanita berjilbab ini mengaku dilahirkan dalam kondisi normal. Kedua penglihatannya juga berfungsi dengan baik. Namun di usia 25 tahun, musibah itu datang
    tanpa diduga. Berawal saat dirinya menderita radang tenggorokan. Agung pun pergi berobat ke dokter langganannya. Oleh sang dokter, dirinya diberikan obat
    antibiotik yang bukan biasa ia minum.

    "Ketika itu, dokter tidak menanyakan apakah saya alergi terhadap obat atau tidak. Saya juga tidak tanya apakah obat tersebut bisa menimbulkan alergi atau
    tidak. Ya seperti berobat biasanya," kisahnya.

    Tak diduga, selang beberapa hari setelah meminum obat tersebut, tubuhnya mulai bereaksi. Bahkan, Agung sampai dilarikan ke rumah sakit dan menjalani opname
    hingga 35 hari. Yang membut Agung shock, saat itu dokter memvonis dirinya mengidap penyakit Stevens Johnson Syndrome (SJS). Penyakit ini berefek ke fungsi
    penglihatannya yang lambat laun menjadi kabur.

    "Dua puluh hari pertama saya tidak bisa apa - apa. Dari kepala hingga kaki menghitam semua. 20 kuku saya lepas, dan rongga mulut sariawan semua. Praktis,
    saya hanya mengandalkan infus," kenangnya.

    Dan, setelah 35 hari dirawat di rumah sakit, Agung diizinkan pulang. Namun oleh dokter, dia divonis low sight vision atau penglihatan yang kurang. Hatinya
    pun berkecamuk terhadap kondisinya. Namun perlahan Agung akhirnya bisa menerima keadaannya tersebut.

    Yang membuat dirinya semakin bersyukur, kedua matanya tidak buta total. Namun masih bisa berfungsi sekalipun tidak sempurna seperti mata normal pada umumnya.
    "Saya bisa mengambil hikmah atas cobaan ini," ucapnya penuh syukur.

    Akibat musibah yang dialaminya itu, sempat menyebabkan wisuda sarjana Agung di Fakultas Psikologis Unika Soegijapranata Semarang molor. Kebetulan saat
    jatuh sakit itu, dirinya tengah menunggu masa wisuda. "Wisuda saya molor dari bulan Maret menjadi bulan September 1995," ujar Ketua DPD Pertuni Jateng
    ini.

    Agung mengaku apa yang dilakukan saat ini sebagai konselor dan psikolog adalah wujud rasa terima kasihnya kepada sang pencipta, karena telah diberikan
    kehidupan yang baru kembali. Menurutnya, rasa syukur itu tidak hanya sebatas mengucapkan terima kasih, tapi juga diwujudkan dalam bentuk bantuan kepada
    orang lain.

    "Saat sakit, saya sudah seperti mau meninggal. Tapi, saya bisa bangkit kembali. Pengalaman itu yang selalu saya berikan kepada orang lain, khususnya kepada
    para tuna netra sebagai motivasi," kata Agung yang belum lama lalu terpilih sebagai satu dari delapan tokoh wanita Jawa Tengah yang dianggap mampu menjadi
    inspirasi perjuangan perempuan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

    Agung berharap kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan para penyandang tuna netra. Saat ini, dirinya tengah menyosialisasikan software komputer khusus
    bagi kaum tuna netra di Kabupaten/Kota di Jateng. Program komputer itu dilengkapi suara yang bisa menuntun pemakainya, khususnya penyandang tuna netra,
    dalam mengoperasikannya. Sayangnya, harga software itu masih relatif mahal, sehingga para tuna netra masih sulit menjangkaunya.

    "Satu program asli harganya bisa mencapai Rp 13 juta. Harga segitu tentu sulit bagi kami. Jika ada bantuan pemerintah, paling tidak bisa mewujudkan impian
    kami untuk bisa mandiri," ujarnya.

    Menurut Agung, sudah saatnya para tuna netra mengenal komputer. Karena dari situ, akan bisa mengenal dunia internet dan bisa lebih berkarya. Selama ini,
    dirinya coba mengakali dengan cara meng-crag software komputer tersebut agar bisa digunakan banyak orang. "Tapi, itu ilegal dan dilarang," katanya. (*/aro)

    Kamis, 2008 Desember 25

    Rama, Kiprah Seorang "Blogger" Tunanetra

    Oleh PEPIH NUGRAHA, Kompas, Selasa, 8 Juli 2008

    Dalam buku tamu di blog miliknya, Eko Ramaditya Adikara menyebut dirinya
    sebagai The Indonesian Blind Blogger. Rama, demikianlah ia biasa
    dipanggil, memang seorang tunanetra. Namun, jika bertemu Rama jangan
    sekali-kali mengasihaninya sebagai orang berkekurangan. Salah-salah kita
    yang dikasihani karena terlalu banyak kekurangan!

    Contoh saat dia mempraktikkan bagaimana menulis artikel di atas papan
    ketik komputer pribadi yang diperuntukkan bagi orang normal (bukan papan
    ketik Braille), Rama mampu menulis 60 kata per menit. Kemampuan itu
    setara dengan pengetik profesional mana pun yang biasa bekerja di atas
    papan ketik QWERTY. Rama bahkan tidak membuat kesalahan satu huruf pun
    atas apa yang ia tulis secepat angin berlalu itu.

    Mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang tunanetra sejak
    lahir mampu melakukan pekerjaan yang galibnya dilakukan orang normal?
    Bagaimana mungkin dia menjadi blogger yang bukan hanya sekadar mengisi
    kontennya, tetapi juga mendesain perwajahannya, bahkan dengan latar
    belakang musik digital gubahannya? Bagaimana dia bisa bekerja di atas
    laptop yang selalu dibawa ke mana pun ia pergi? Bagaimana pula Rama
    mengerti perintah komputer yang jumlahnya tak terhitung itu? ”Saya
    meninggalkan huruf Braille sejak sepuluh tahun lalu saat teknologi
    pembaca layar (screen reader) hadir. Bagi saya itu sebuah revolusi.
    Sampai sekarang praktis saya tidak menggunakan Braille lagi. Saya bisa
    membaca buku atau menulis di komputer seperti mereka yang berpenglihatan
    normal,” kata Rama saat kami temui pada sebuah acara Komunitas Multiply
    Indonesia di Jakarta, Rabu (2/7) malam lalu.

    Aplikasi pembaca layar yang digunakan Rama adalah JAWS, singkatan dari
    Job Access With Speech. Ini sebuah peranti lunak yang dikembangkan Blind
    and Low Vision Group di Freedom Scientific St Petersburg, Florida,
    Amerika Serikat. Dengan JAWS yang pertama kali diluncurkan 1989 itu,
    komputer apa pun asalkan menggunakan Microsoft Windows, dimungkinkan
    dioperasikan oleh mereka yang menderita cacat penglihatan. JAWS mengubah
    teks menjadi berbicara atau text-to-speech. Tahun 1992 JAWS lebih
    dikenal luas seiring meluasnya penggunaan Microsoft Windows.

    Rama memiliki domain sendiri untuk blog-nya, tetapi karena juga ngeblog
    di Multiply, ia hadir dalam pertemuan para blogger Multiply yang
    dimotori Sri Sarining Diyah tersebut. Pada malam itu, Rama menjadi
    ”bintang” di antara blogger dengan banyaknya peserta yang ingin berfoto
    bersama. Rama tidak canggung berfoto. Bahkan, saat kaum perempuan
    berebut berfoto ia nyeletuk, ”Wah, saya kayak raja semalam saja.”

    Screen reader yang disebut Rama adalah peranti lunak yang memungkinkan
    apa-apa yang tertulis di layar komputer atau layar ponsel bisa ”terbaca”
    dengan cara bersuara. Saat Rama menulis menggunakan pengolah kata Word,
    misalnya, mesin secara otomatis mengeluarkan suara atau mengeja apa pun
    yang ia tulis. Kesalahan huruf pun akan diketahui dan segera diperbaiki.

    Cara yang sama dilakukan Rama saat dia membaca buku Star Wars
    kesukaannya. Ia pindai (scan) halaman demi halaman buku itu agar bisa
    dibaca di layar komputer. Otomatis komputer akan membacanya dengan
    mengeluarkan suara. Jangan heran jika ia mengoleksi dan sudah membaca
    320 buku Star Wars. Pesan pendek (SMS) di ponselnya pun ditanam peranti
    lunak pembaca layar serupa untuk kebutuhan mobile, yakni TALKS. Setiap
    Rama membuka pesan pendeknya, suara mesin terdengar persis seperti apa
    yang tertulis di layar ponsel.

    *Percaya diri*

    Karena berbekal kemampuan teknologi informasi itulah Rama ke mana-mana
    membawa ponsel dan laptop Asus dengan layar 7 inci. Ponsel perlu untuk
    berkomunikasi dan mengirimkan pesan, sementara laptop diperlukan untuk
    menulis di blog atau menulis artikel untuk media online. Kegiatan
    blogging dilakukannya sejak 2003 saat blog belum booming. Untuk itulah
    buku tamunya sudah terisi oleh 464 netter yang memberi pesan.
    Sebagaimana fatsun blogger, Rama menjawab sendiri semua pesan dan
    komentar yang masuk.

    Pemuda yang kini berusia 27 tahun sejak lahir memang sudah ditakdirkan
    tunanetra. Sempat berhasil ditolong dengan operasi pembuatan diafragma
    buatan pada mata kanan sehingga mampu melihat 10 persen, tetapi setelah
    itu dia buta total. Meskipun menderita cacat netra, ayahnya, Rahadi
    Sudarsono, tidak memperlakukannya sebagai ”orang buta”. Sang ayah
    memperlakukan anaknya secara wajar sebagaimana orang normal, kecuali
    dalam hal merekam pelajaran saat Rama duduk di bangku SLTA.

    ”Bapak merekam semua buku pelajaran ke dalam kaset, sementara ibu
    membantu dengan doa dan dukungan moril,” kata Rama sebagaimana tertulis
    dalam blog-nya.

    Rasa percaya diri itulah yang ditumbuhkan Rahadi kepada anaknya,
    sementara Rama menerimanya sebagai sebuah ”tantangan” karena ternyata
    tunanetra pun bisa mandiri tanpa harus bergantung kepada orang normal.
    Itu sebabnya, di semua artikel yang ditulisnya di blog, tidak ada kata
    mengiba-iba dan meminta dikasihani. Sebagai gantinya, ia memberi harapan
    dan optimisme. Ironisnya, harapan dan optimisme itu lebih ia tujukan
    kepada orang berpenglihatan normal yang membaca blog-nya.

    *Tawarkan harapan*

    Kepada sesama tunanetra, ia menawarkan harapan dan mengajarkan pantang
    berputus asa. Misalnya, ia memberi tips yang positif bagi penyandang
    tunanetra. ”Bagi tunanetra bisa naik pesawat terbang itu suatu
    keistimewaan, maka saya pun menulis tips bagaimana naik pesawat bagi
    tunanetra,” katanya.

    ”Saya ini (tunanetra) sudah beda (dengan orang normal), tetapi saya
    ingin berbeda dari perbedaan itu,” kata Rama mengenai filosofi hidupnya.
    Saat diminta menjelaskan lebih dalam makna hidupnya itu, ia mengatakan,
    ”Saya ingin berbeda dari rekan-rekan sesama tunanetra.”

    Kalau sekadar prinsip itu, sebenarnya Rama memang beda dan bahkan
    istimewa dibanding tunanetra lainnya, setidaknya dalam urusan teknologi
    informasi. Bayangkan saja, selain menguasai berbagai program peranti
    lunak, dari yang paling ”jadul” seperti DOS (Disc Operation System),
    WordStar, sampai Windows Vista yang terbaru, ia juga mampu mengutak-atik
    perangkat keras komputer. ”Saya pernah merakit komputer. Memang pakai
    kesetrum dan ’ledakan’ segala, tetapi alhamdulillah berhasil,” kenangnya
    sambil terkekeh.

    Rama mulai mengenal ”komputer” saat berusia lima tahun, yakni ketika
    Game Atari mulai muncul dan kebetulan dimiliki salah seorang
    tetangganya. Tahun 1996, seorang mahasiswi bernama Silvi mengajarinya
    mengetik 10 jari karena terkesan dengan tekad Rama yang mati-matian
    belajar menulis di WordStar.

    Perjalanan hidup Rama dalam urusan ilmu komputer pun berubah ketika JAWS
    lahir dengan pembaca layarnya. Ibarat menemukan tongkat ajaib yang telah
    lama hilang, perjalanan Rama di bidang teknologi informasi seperti tidak
    terbendung. Ia kini ”mampu melihat” dan belajar tentang apa pun sesuka dia.

    Dia membaca hampir semua buku best seller dan mengaku apa yang sudah
    dibacanya seperti menempel terus di ingatannya. Pengalaman interaksinya
    dengan buku dan teman-teman ia tuangkan dalam catatan harian di blog-nya.

    ”Bagi saya, blog sudah menjadi kehidupan kedua,” kata Rama yang pada
    Agustus mendatang menerbitkan dua buku dari hasil ngeblog-nya itu.

    Senin, 2008 November 03

    Saharuddin, Tunanetra Pejuang HAM

    Oleh Nasrullah Nara. Kompas, Rabu, 25 Juli 2007






    Terangnya dunia hanya ia nikmati hingga usia 10 tahun. Namun, kehilangan indera penglihatan sejak usia bocah itu tak mematikan semangat dan rasa percaya diri dia untuk meneruskan hidup seperti umumnya orang lain.
    Itulah Saharuddin Daming, yang pada 21 Juni lalu dinyatakan lolos seleksi calon anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Komisi III DPR menetapkan dirinya sebagai salah satu dari 11 anggota Komnas HAM periode 2007-2012.
    Inilah kali pertama keanggotaan Komnas HAM diisi seorang tunanetra. Pada sisi lain, melalui lembaga negara ini, Saharuddin yang punya nama lain Andi Sebastian tertantang untuk menghilangkan diskriminasi bagi penyandang cacat.
    Pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 28 Mei 1968, ini sempat ragu akan kelolosan dirinya dalam seleksi anggota Komnas HAM. Maklum, dari 43 calon komisioner, terdapat tiga nama komisioner lama yang sudah malang melintang dalam masalah HAM, yakni Zumrotin K Susilo, Enny Soeprapto, dan M Farid. Belum lagi sejumlah pensiunan jenderal TNI/Polri dan akademisi yang tak kalah tenarnya.
    Akan tetapi, berbekal pengalaman pribadi sebagai orang yang termarjinalkan dalam hak-hak fundamental, ditambah pengalaman dia sebagai advokat, Saharuddin tak gentar. Pengalaman empirik dan bekal ilmu sebagai magister hukum dari Universitas Hasanuddin memantapkan tekadnya untuk menegakkan lima fungsi Komnas HAM: pemantauan, mediasi, penyuluhan, pengkajian, dan penyelidikan HAM.
    "Institusi negara mulai memberi ruang bagi orang yang punya keterbatasan fisik untuk berkiprah bagi masyarakat luas," katanya ketika ditemui di Bumi Tamalanrea Permai, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (16/7).
    Di rumah bangunan perumnas tipe 45 yang masih berkonstruksi asli standar itulah Saharuddin tinggal dengan status mengontrak. Dia ditemani istrinya, Yayi Zaitun Asdy (37), berikut dua putri mereka, Fadhillah Istiqamah (8) dan Mufidatul Husnah (6).
    Anugerah
    Saharuddin sadar bahwa sebagian kalangan meragukan kiprahnya pada ranah penegakan HAM. Terlebih secara hukum dan sosial, tunanetra masih tersisihkan. Namun, di balik gulita tersimpan pula anugerah. Kegelapan yang membekapnya sejak usia 10 tahun malah menempanya untuk paham dan peka akan penindasan HAM. Dia mampu membaca hal tersirat di balik yang tersurat.
    Menjadi anggota Komnas HAM adalah bagian dari langkah panjangnya dalam penyadaran publik akan hak-hak dasar sebagai manusia dan warga negara. Tamat Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin tahun 1994, ia mulai aktif pada sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi pemberdayaan penyandang cacat. Misalnya, Yayasan Perlindungan Lembaga Konsumen dan Lembaga Bantuan Hukum. Ia juga memimpin Persatuan Tuna Netra Indonesia Sulawesi Selatan.
    Berbagai forum ilmiah yang diikutinya tak cuma memperluas wawasan advokasi, tetapi juga mempertajam bakat jurnalistiknya. Artikel-artikelnya seputar hukum dan HAM mengisi media massa. Pria berbobot 79 kg dan tinggi 178 cm ini juga sering tampil dalam berbagai seminar.
    Dengan banyaknya warga penyandang cacat yang minta didampingi, pada tahun 1998 ia menekuni profesi advokat secara profesional. Sama ketika hendak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dalam proses pendaftaran calon advokat pun ia dihambat panitia ujian. Keikutsertaan dia sebagai peserta ujian advokat "menggegerkan" Pengadilan Tinggi Makassar karena dianggap tak lazim. Ia dinyatakan tak lulus.
    Ketidaklulusan itu bukan sebab pertimbangan kualitas menyangkut jawaban ujian, melainkan karena dia tunanetra. Ia protes ke Mahkamah Agung, lalu dia pun dilantik sebagai advokat berstatus lulus susulan.
    Sebagai advokat, secara ekonomi hidup Saharuddin tak tergolong mapan. Maklum, dari 10-15 perkara yang ditangani per tahun, ia tak mematok tarif. Lagi pula, kliennya rata-rata kalangan menengah ke bawah. "Bisa bayar ongkos perkara saja saya sudah bersyukur," tuturnya.
    Ruang tamu rumah kontrakannya diisi sofa, kursi plastik, dan komputer. Di ruang tengah hanya ada lemari buku. Untuk mobilitas, ia mengandalkan angkutan umum dan dituntun bergantian oleh staf atau istrinya.
    Untuk menyelami bahan-bahan kepustakaan, menulis artikel, dan menyusun berkas perkara, selain mengandalkan kemampuan braille, ia dibantu tenaga staf. Dengan kondisi itu pula ia gigih mengikuti program doktor bidang hukum di Unhas.
    Awal kebutaan
    Dia lahir sebagai bungsu dari lima bersaudara. Pada usia 6 tahun, ayahnya, Daming, meninggal dunia. Saharuddin kecil terpaksa membantu ibundanya, Sitti Lai, mencari uang. Dia menjajakan kue dan es lilin, menjadi kuli bangunan dan kenek mobil, serta menjadi kuli angkut ikan di pasar. Itulah pekerjaannya di luar jam sekolah.
    Dari kerja keras itu, ia bersama ibu dan kakak-kakaknya mampu membeli rumah panggung khas Bugis. Rumah yang baru dibeli terlebih dulu harus dibongkar dan dirakit ulang di atas tanah keluarga. Rangkaian rumah satu per satu dilepas, termasuk bagian atap yang terbuat dari daun nipah. Atap yang sudah lapuk diperosotkan ke permukaan tanah dengan menyisakan partikel halus yang berhamburan.
    Saat mondar-mandir ikut membongkar rumah, tak terduga mata kanannya kemasukan partikel halus atap nipah. Itulah awal Saharuddin bermasalah dengan indera penglihatannya. Buntutnya, mata kanannya buta total.
    Bertumpu pada mata kiri, kegemaran dia membaca buku dan koran tak surut. Kebiasaan itu dilakoninya sepulang sekolah hingga malam hari. Minat baca Saharuddin yang begitu tinggi tak diimbangi penerangan memadai. Maka, penglihatan pada mata kirinya pun menjadi buta. Dokter memvonis sistem saraf dari otak ke retina matanya lumpuh.
    BIODATA
    * Nama : Saharuddin Damingalias Andi Sebastian
    * Lahir : Parepare, Sulawesi Selatan, 28 Mei 1968
    * Istri : Yayi Zaitun Asdy(37)
    * Anak:
    - Fadhillah Istiqamah(8)
    - Mufidatul Husnah (6)
    * Alamat : Jalan Kerukunan Timur Raya Blok H/12 Bumi Tamalanrea
    Permai, Makassar
    * Pendidikan:
    - Kandidat Doktor Ilmu Hukum Universitas Hasanuddin
    - Magister Hukum Universitas Hasanuddin, 2002
    - Sarjana Hukum Universitas Hasanuddin, 1994
    - SMA Datok Ri Bandang Makassar, 1988
    - SLB-A Yapti Makassar, 1985
    - SD Negeri 23 Parepare, 1980

    * Aktivitas:
    Advokat, LSM, dan Organisasi Pemberdayaan Komunitas Tuna Netra.
    * Karya tulis di antaranya:
    - Potret MarjinalisasiHak Penyandang Cacat dalam Pembangunan,
    Jurnal HAM Desember 2005
    - Praktik Kompensasi dan Klausul Baku dalam PLN, "Bisnis Indonesia"
    - Bias Penanganan Korupsidi KPU, "Media Indonesia"
    - Bias-bias Apresiasidalam Dunia Pendidikan, "Suara Pembaruan"
    - Inul Kebablasan,"Republika"
    - Delik Pers dalam Perspektif Hukum dan Keadilan, "Fajar"

    Jumat, 2008 Oktober 31

    Bambang Basuki, Tunanetra Pendiri Yayasan Mitra Netra

    Batam Pos, Kamis, 26 Juli 2007


    Penyandang Cacat adalah Manusia dengan Tantangan Istimewa

    How are you Pak Bambang? Sombong ya sekarang? Lama tidak ngobrol-ngobrol. Gimana kabarMitra? Sapaan itu meluncur dari mulut banyak orang yang mengikuti pembukaan konferensi nasional ke-1pendidikan tunanetra, di Hotel Golden View, Selasa (24/7) lalu. Sambil mengucapkan kata-kata itu, mereka denganhangat menyalami Bambang Basuki, pria 57 tahun yang mengalami kekurangan dalam penglihatan ini. Penasaran dengan siapa sosok yang acap kali disapa orang ini, Batam Pos mengajukan pertanyaan yang langsungdijawab dengan tawa. Mereka tahu saya dari Yayasan Mitra Netra. Mereka semua sahabat-sahabat yang menyenangkan katanya seraya menyeruput teh yang baru saja diambilkan seorang suster kepadanya. Dulu, katanya, dia adalah pendiri Yayasan Mitra Netra, yayasan non profit yang memberi layanan yang tepat dan inovatif kepada para tunanetra. Siapa yang lebih mengerti tunanetra kalau bukan tunanetra itu sendiri, betulkan? katanya. Bambang menceritakan ihwal ia menjadi tak bisa melihat sama sekali. Awalnya, ia terlahir sebagai anak berpenglihatan normal. Sewaktu duduk di kelas dua SMA, ia mulai merasa penglihatannya bermasalah. Meski begitu, ia berhasil menamatkan pendidikan SMA-nya dengan nilai cukup baik. Dari sana, ia mulai menjalani operasi. Menurut dokter, papar ayah tiga orang anak ini, ia mengalami degenerasi kornea. Ini menyebabkan ia mengalami glukoma yang mengganggu keseimbangan cairan bola mata.
    Akibatnya, mata menekan saraf dan membuatnya pusing dan terakhir, tak bisa melihat. Mengatasi hal itu, ia sempat menjalani tujuh kali operasi. Namun akhirnya ia menyerah dan terpaksa menerima bahwa ia telah jadi tunanetra. Layaknya kebanyakan orang yang mengalami cacat tiba-tiba, Bambang juga sempat stres dan sesak nafas. Masa ini,katanya, adalah masa kritis baginya dan bagi setiap orang yang mengalami hal serupa. Di masa ini, ada tiga kemungkinan alasan. Jika cacat itu karena kelalaian orangtua, kita akan menyalahkan orangtua. Jika karena kelalaian sendiri, kita tidak akan pernah memaafkan diri sendiri, dan jika karena sakit yang diberikan Tuhan, kita pun akan marah kepada Tuhan. Ini yang saya alami. Saya marah dan menyesalkan, kenapa Tuhan berbuat ini kepada saya, katanya mengenang kejadian puluhan tahun lalu. Ia baru bangkit dan berhenti menyesali Tuhan sejak ia mulai mendengar sebuah ceramah di radio. Kala itu ia mendengar sebuah hadis kudsi yang mengatakan bahwa orang yang kehilangan kedua penglihatan, tapi ia sabar dantawakal, maka dia akan mendapat imbalan yang lebih di banding yang lain. Inilah yang kemudian menjadi cemeti baginya untuk bangkit setelah lima tahun terus menyesali keadaannya. Sejak itu, saya melihat diri saya sebagai orang laknat. Tidak bisa melihat maksud Tuhan. Saya mulai berpikir danmengubah paradigma saya.
    Penyandang cacat adalah manusia dengan tantangan istimewa. Begitu juga dengan orang di sekitarnya. Jika mereka bisa mengatasi dengan baik, maka dia juga akan menjadi orang yang istimewa, katanya.

    Kamis, 2008 Oktober 30

    Setia Adi Purwanta, Kebutaan adalah Kesempurnaan

    Oleh Nur Hidayati. Kompas, Kamis, 05 Juni 2003

    SEBUAH kecelakaan membuat Setia Adi Purwanta mengalami kebutaan total sejak tahun 1976. Seusai masa-masa frustasi, asisten apoteker yang terpaksa mengakhiri kariernya itu mulai memperjuangkan pendidikan dan lingkungan yang terbuka bagi penyandang cacat.
    Bagi Setia (50), cacat fisik bukan ketidakmampuan (disability), melainkan kemampuan yang berbeda (different ability). Kini ia bukan hanya mengajar matematika dan bahasa Inggris di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Bantul, Yogyakarta.
    Setia juga berupaya membangun jaringan advokasi dan pengembangan diri bagi penyandang cacat. Kiprah ini mengantarnya menggali pengalaman di berbagai negara.
    Sepulang mengajar, Setia berkantor di Dria Manunggal, lembaga penelitian dan pemberdayaan penyandang cacat yang ia dirikan pada tahun 1991. United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP) menobatkan lembaga ini sebagai pemenang kedua penghargaan pengembangan sumber daya manusia di Asia Pasifik tahun 2000.
    Dria Manunggal mengupayakan agar penyandang cacat menguasai keterampilan produktif, dari kerajinan tangan, pertanian hidroponik, hingga penguasaan komputer.
    Selain itu, lembaga tersebut juga menjalankan beragam upaya advokasi, antara lain menyusun usulan perundangan lengkap dengan standar teknis aksesibilitas fasilitas umum dari tahun 1996 hingga tahun 1998.
    Di Jalan Malioboro, Yogyakarta, seorang tukang pijat tunanetra mengenal Setia sebagai pemrakarsa yang menggerakkan komunitas seni Malioboro bersama Pemerintah Provinsi DIY, Departemen Perhubungan, dan Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik, Universitas Gajah Mada, membangun jalur penuntun bagi penyandang cacat di sepanjang sisi barat jalan itu.
    Kini, belasan sukarelawan bekerja bersama Setia di kantor Dria Manunggal yang sederhana di Jalan Wates, Yogyakarta. Beberapa di antara para sukarelawan ini berasal dari Jepang dan Perancis.
    Ayah dari tiga anak, salah satunya penyandang tunanetra dan tunagrahita yang ia adopsi sejak bayi ini, dapat dikatakan sebagai aktivis dengan "jam terbang" tinggi.
    Namun, ia tetap melakoni tugas sebagai guru SLB.
    "Mengajar membuat saya dekat dengan anak-anak yang dikatakan cacat itu. Saya kenali betul kelemahan dan ketidakadilan dunia pendidikan bagi anak-anak ini," ujar pegawai negeri sipil ini.
    Setia masih harus bekerja keras mewujudkan impiannya, tetapi kebutaan telah dirasakannya sebagai karunia.
    "TUHAN menciptakan setiap makhluknya dengan sempurna.
    Kebutaan ini adalah kesempurnaan saya sebagai ciptaan Tuhan," katanya.
    Pria kelahiran Madiun tahun 1953 ini sempat terguncang ketika ia mendadak menjadi buta.
    "Mengapa saya yang dibuat buta oleh Tuhan. Padahal, orang yang lebih brengsek dari saya saja enggak dibuat buta," kata Setia mengungkapkan gugatannya ketika itu.
    Di tengah kegalauan, keluarga dan kawan-kawan dekat mendorong Setia meninggalkan Surabaya, kota tempat tinggalnya ketika itu, untuk menempuh studi di Sekolah
    Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) di Yogyakarta.
    "Masa sekolah di SGPLB itu saya masih penuh amarah. Saya bisa bersikap kasar sekali pada guru," tuturnya.
    Kemarahan Setia meleleh ketika ia memulai praktik mengajar sejumlah anak tunanetra di akhir masa pendidikan SGPLB tahun 1978.
    "Anak-anak itu bersekolah, tapi apa yang bisa mereka dapat? Akan jadi apa mereka, hanya jadi tukang pijat?" keluhnya resah.
    Setia tidak mempercayai pola pendidikan yang sepenuhnya eksklusif. Memisahkan penyandang cacat dari masyarakat umum, diyakininya tidak akan membuahkan kemandirian dan pemenuhan hak asasi bagi penyandang cacat.
    "Kalau saya pergi kondangan dan tuan rumah langsung menggiring saya berkumpul dengan sesama tunanetra, bagaimana saya bisa tahu pengantinnya cantik atau enggak?" ujarnya sambil tertawa.
    Berbincang dengan Setia tak akan lepas dari canda. Pria yang menamatkan pendidikan pascasarjana bidang pendidikan di IKIP Yogyakarta (kini Universitas Negeri Yogyakarta) ini tidak lupa menikmati hidup.
    Ia menggemari musik klasik, suka "mendengarkan" film,
    "mendengarkan" matahari terbit ketika berlibur ke pantai, dan menikmati berbagai perjalanan.
    Dengan detail, ia bisa menggambarkan kota-kota yang paling mengesankannya, antara lain Beijing di Cina.
    Tuturnya, "Saya memang tidak bisa melihat, tapi saya bisa merasakan suasana ketika jalan-jalan ke pasar tradisional yang bersebelahan dengan sebuah mal di Beijing itu. Lagi pula, teman diskusi di jalan biasanya tidak susah ditemukan."
    Dukungan sang istri, Suharti (49), tentu luar biasa berarti bagi Setia. Suharti yang sebelumnya mendukung perekonomian keluarga dengan menjahit pakaian pesanan turut belajar di SGPLB. Wanita asal Madiun ini kemudian mengajar di SLB bersama sang suami.
    Setiap hari Suharti memboncengkan suaminya bersepeda motor ke SLB tempat mereka mengajar.
    "Biarpun dapat tumpangan, tapi enggak gratisan, lho.
    Kan, saya yang ngengkol stater-nya," tambah Setia.
    KEYAKINAN akan keadilan Tuhan membuat Setia berpendapat, pada dasarnya tidak ada orang cacat di dunia. Label
    "cacat" yang diberikan masyarakat dan penerimaan diri si penyandang label itulah yang menyebabkan orang menjadi cacat.
    "Padahal, selalu ada tugas yang diemban setiap orang dengan keadaan diri sebagaimana adanya. Seorang yang kehilangan kaki misalnya, punya cara yang berbeda untuk menjalani tugas hidupnya dengan seorang yang lain," jelas Setia.
    Pola diskriminasi yang mengikuti pelabelan itu bukan saja meluas dalam segala aspek kehidupan publik. Namun, Setia memandang diskriminasi dalam keluarga dan lingkungan terdekat pun tak kalah. "Ketika sebelah tangan bayi yang cacat ditutupi selendang saat selamatan kelahiran, diskriminasi sudah dimulai," ujarnya.
    Dunia pendidikan formal, di mata Setia, sering menampilkan salah satu bentuk diskriminasi yang paling mencolok. Ia meyakini, tanpa proses pembelajaran yang baik, pola eksklusif rehabilitatif yang diterapkan pemerintah, misalnya, pada sekolah sejenis SLB, hanya menjadi sebentuk isolasi bagi anak-anak yang dikatakan cacat.
    TAHUN ini UNESCAP memberikan dukungan pada Setia melalui Dria Manunggal, yang ia kelola, untuk mengembangkan komunitas inklusif bagi orang-orang berkemampuan berbeda ini di lima lokasi di Yogyakarta.
    Bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Nasional DI Yogyakarta, uji model pendidikan bagi anak-anak dengan kemampuan berbeda juga dilakukan di enam sekolah dasar dan dua taman kanak-kanak di daerah ini.
    "Bukan hanya anak yang perlu disiapkan dalam pola ini, tetapi juga orang tua, guru, dan sarana," ujarnya.
    Sambil memainkan telepon selular yang selalu ia bawa, Setia berujar, "Kita sering lupa, anak-anak bukan hanya belajar dari guru dan orangtua, mereka juga belajar dari pergaulan dan teman-temannya. Jadi, jangan mencabut mereka dari dunia yang senyatanya, dunia yang apa adanya."

    Rabu, 2008 Oktober 29

    Angin pun Berbisik: Kumpulan Sajak Cinta

    Resensi oleh Jamal D. Rahman
    Harian Media Indonesia, rubrik Bedah Pustaka, 26 Januari 2008

    Judul : Angin pun Berbisik: Kumpulan Sajak Cinta

    Pengarang : Irwan Dwi Kustanto, Siti Atmamiah, dan Zeffa Yurihana

    Pengantar : Mohamd Sobary

    Penerbit : Jakarta: Sp@asi dan Yayasan Mitra Netra, Januari 2008

    Tebal : xxvii + 164 halaman

    Puisi-puisi dalam buku ini lahir dari sebuah proses yang mengharukan. Ditulis oleh sebuah keluarga, Irwan Dwi Kustanto (suami/ayah), Siti Atmamiah (istri/ibu),
    dan Seffa Yurihana (anak), puisi-puisi itu adalah ekspresi, saksi, sekaligus dokumentasi pasang-surut cinta, rindu, cemburu, kesedihan, dan kebahagiaan
    dalam hubungan suami-istri dan ayah-ibu-anak.

    Menginjak usia 9 tahun, Irwan mengalami gangguan penglihatan. Usaha penyembuhan dilakukan dengan berbagai cara, tapi dokter akhirnya menyimpulkan bahwa
    retina kedua matanya rusak total. Ia harus menerima kenyataan bahwa dia kini adalah seorang tunanetra. Dengan perasaan kecewa dan putus asa, pria kelahiran
    Jakarta, 7 November 1966, ini memasuki babak baru hidupnya yang gelap. Tak bisa lagi melihat dengan awas adalah sebuah pukulan sekaligus beban mental yang
    amat berat.

    Pukulan berat yang takkan terlupakan dialami Irwan ketika dia kuliah filsafat pendidikan di IKIP Muhammadiyah Jakarta. Dengan kesadaran penuh bahwa dia
    kini seorang tunanetra, dia bercita-cita menjadi guru. Ketika itu dia sudah fasih baca-tulis huruf Braille. Tapi setelah menyelesaikan semester 1, perguruan
    tinggi itu tidak membolehkan Irwan melanjutkan kuliah ke semester berikutnya. Alasannya sungguh menyakitkan: “Calon guru tak boleh cacat.” Dengan hati
    pedih, dia pun pergi meninggalkan kampus itu.

    Tapi Irwan tidak kalah. Dia akhirnya kuliah filsafat Islam di IAIN (kini: UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan berhasil merampungkannya di tahun 2004.
    Maka dia fasih berbicara filsafat, baik klasik maupun modern, dari Al-Kindi hingga Murtadha Muthahhari, dari Thales hingga Habermas. Di antara filsuf yang
    dikaguminya adalah Muhammad Iqbal, penyair dan filsuf Pakistan itu. Tidaklah mengherankan kalau dia menyukai sajak atau puisi, di samping filsafat.

    Irwan bahkan menulis semacam kredo puisi, sebuah sikap kepenyairan yang jelas berlatar hidupnya sebagai seorang tunanetra sekaligus seorang sarjana filsafat
    yang menyadari keterbatasan rasio. Dia menulis, “Tatkala mata fisikku tak lagi sempurna menggambarkan dan memproyeksikan benda-benda ke dalam otak dan
    pikiranku, maka hati dan jiwaku menggantikannya dengan ketajaman penglihatan yang sungguh dahsyat. Begitulah, aku dihadiahkan oleh Tuhan dan alam kasih
    sayang yang melimpah, aku dibiarkan untuk mengenali dirinya dengan caraku sendiri ....

    Dunia yang terkurung oleh petak-petak dalam rasio manusia terpancar menyatu dalam gelora dan kelembutan makna hadirku, aku terbiasa dengan sentuhan jari,
    penciuman, pendengaran serta terkadang kilatan-kilatan rasa yang membuatkehadiran dunia menjadi berdimensi dan utuh. Kesan-kesan yang menggurat lantas
    menjadi begitu hidup, seakan berbicara dengan huruf-huruf, kata demi kata dan akhirnya menjelma sebagai sajak.

    Sajak bagiku kehidupan, baik dituliskan atau dilisankan, bahkan jika hanya tersimpan dalam relung hati sekalipun. Dia tetap tumbuh dan berkembang, memberi
    segala rupa, makna dan rahasia kepada siapa pun yang menginginkannya hidup. Dalam kegelapan dan redupnya cahaya yang mampir ke dalam mataku, sebait sajak
    bernilai berjuta gambar bagi siapa pun yang mendengar atau menbacanya, oleh karenanya dengan sajak dunia begitu berwarna, meriah, agung dan indah bagiku.”

    Di IAIN Syarif Hidayatullah, Irwan bertemu dengan Siti Atmamiah, kakak kelasnya yang juga menyukai puisi. Kepada perempuan bermata awas yang kemudian menjadi
    istrinya inilah, puisi Irwan berikut ini (mungkin) dialamatkan: rembulan cinta, senyum menjelma/ menetaslah rindu/ tatkala bermula, senja termangu/ dan
    saat malam menggeliat, tak henti-henti/ kusebut namamu (hal. 37). Mereka kini dikaruniai 3 anak: Zeffa Yurihana, Zella Adilati, dan Zeyyina Kayyis Kaila.

    Hidup bahagia sebagai sebuah keluarga, tuntutan kenyataan memaksa mereka hidup terpisah sejak tahun 2004. Karena alasan pekerjaan, Irwan tinggal di Jakarta,
    sementara istri dan ketiga anaknya tinggal di Tulungagung, Jawa Timur, karena alasan orangtua sang istri. Praktis Irwan berjumpa istri dan anak-anaknya
    hanya pada hari-hari libur.

    Tapi jarak tak memisahkan keluarga bahagia ini. Jarak tak lain adalah sebuah jembatan melalui mana rindu, kesedihan, dan kebahagiaan bersama selalu dihubungkan.
    Jarak adalah sebuah ruang dimana cinta menemukan biru apinya yang kekal dan menyala-nyala. Dari sanalah puisi-puisi mereka lahir. Dalam kata-kata Atmamiah
    sendiri, “... puisi ini lebih terinspirasi oleh perasaan yang timbul akibat sebuah jarak, rindu, kesedihan yang benar-benar niscaya, dan cinta yang paling
    agung dan abadi —dunia tak pernah segelap ini.”

    Maka membaca puisi dalam buku yang diluncurkan Rabu (23/1) lalu ini, adalah membaca kesedihan sekaligus kebahagiaan yang menggelora dalam biru api cinta
    yang menyala-nyala. Kesedihan dan kebahagiaan, kesabaran dan ketabahan, impian dan harapan, terdengar bersahut-sahutan di halaman-halaman buku ini, seakan
    suara samar yang melintas-lintas antara Jakarta-Tulungagung. Inilah dendang cinta Irwan Dwi Kustanto dari Jakarta:

    Cintaku padamu

    Adalah sungai berbatu

    Yang selalu

    Berkelebat bayang camar

    Enggan mendarat

    Bertiup angin meminta pulang

    Pada gelisahmu yang runtuh karena gerimis

    Di senja menjelang galungan

    Di mana kau tempatkan sesaji pada dukaku

    ...

    (hal. 9)

    Seakan menyahuti dendang cinta itu, di Tulungagung Siti Atmamiah pun bernyanyi sendu:

    Sepagi ini engkau terbangun

    Kutahu mimpimu belum sempurna

    Kau genggam sepotong rembulan jatuh di wajahmu

    Matamu yang terpejam

    Bukan karena engkau tertidur

    Belajar membaca pertanda

    Pada jubah yang memnuimpan rahasia semesta:

    Laut melumat pasir saat gelombang pasang

    Awan mengarak burung saat kehabisan dahan

    Bulan yang terluka

    Kecipak air muara

    Matamu yang memejam

    Mengharap harum bunga

    Tak usah dinanti melati mekar

    Bila kuncupnya membuatmu merangkai cinta.

    (hal. 125)

    Siti Atmimiah berdendang pula, sebuah dendang rindu dari jauh:

    Berjalan engkau

    Saat senja baru saja pergi

    Sebutir kenangan yang lewat

    Mencari-cari jemarimu yang muram

    Tak ada awalnya

    Ketika kita bertemu

    Merapatlah

    Dadaku penuh gelora

    Di sini darah sedang mengalir deras

    Mengejar sekumpulan awan

    Yang membawa kabar:

    “Esok sore engkau akan datang”

    (hal. 127)

    Dan Zeffa Yurihana? Seperti ibunya, anak 11 tahun itu berharap sang ayah selalu ada di sampingnya, harapan yang dia tahu sedekat ini tak mungkin terpenuhi.
    Maka harapan dan permintaannya bersifat penuh seluruh, sebuah permohonan anak-anak yang memelas dan mengharukan:

    Kali ini saja kumeminta

    Kali ini saja kumemohon

    Di suatu hari nanti

    Kutakkan meminta lagi

    Kau harus bersamaku

    Takkan meninggalkanku

    Hidup ini serasa sempurna

    Karena ada kau di sampingku

    Kali ini saja kumeminta padamu

    Untuk menyempurnakan jalan hidupku

    (hal. 148).

    Di atas gelora cinta itu, dalam kesedihan dan kebahagiaan keluarga, dan dengan keterbatasannya sebagai seorang tunanetra namun dengan ketajaman mata lahir-batinnya
    yang luar biasa, Irwan Dwi Kustanto kini mengabdikan diri untuk memenuhi hak-hak kaum tunanetra. Di Indonesia, jumlah tunanetra mencapai 3 juta orang atau
    1,5% penduduk. Sebagai wakil direktur eksekutif Yayasan Mitra Netra, Jakarta, yang dijabatnya sejak 2001, Irwan mengembangkan sistem simbol Braille Indonesia,
    menciptakan Mitra Netra Braille Converter (sebuah perangkat lunak penkonversi aksara komputer ke aksara Braille), menggagas kamus elektronik untuk tunanetra,
    dan menggagas program Seribu Buku untuk Tunanetra. Di samping itu, pria yang sempat aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini adalah instruktur nasional
    untuk pengembangan simbol Braille Indonesia.

    Jika sajak bagi Irwan adalah kehidupan, sebagaimana diakuinya sendiri, maka kreativitas dan produktivitas mengatasi jarak dan ketunanetraan adalah kehidupan
    Irwan yang sesungguhnya.***

    Pondok Cabe, 24 Januari 2008

    Jamal D. Rahman, penyair, pemimpin redaksi majalah sastra Horison
  • Rio_unesa: Informasi bagi tunanetra - http://rio-t4.blogspot.com